Mitos dan Fakta Tentang ASI

  • 7 September 2019
  • 84 views
Mitos dan Fakta Tentang ASI Mitos dan Fakta Tentang ASI

Pemberian air susu ibu (ASI) merupakan salah satu aktivitas alamiah. Oleh karena itu, aktivitas menyusui turut mewarnai sejarah manusia sejak fajar peradaban.

Seiring dengan itu, ada saja cerita yang lahir dari generasi yang kemudian dikonsumsi generasi berikutnya. Demikian seterusnya. Walau belum dipastikan benar adanya cerita itu, sebagian orang meyakininya dan menjadikan dasar bersikap, termasuk dalam masalah ASI.

Namun mitos-mitos terkait ASI akhirnya dapat juga dibantah oleh berbagai penelitian. Contoh mitos itu seperti seorang ibu harus membuang ASI-nya dulu sebelum menyusui lantaran ASI pertama itu basi.

Pada faktanya, ASI tidak mengenal istilah basi. Semua susu dalam payudara selalu dalam keadaan segar karena senantiasa sesuai dengan suhu tubuh.

Lain halnya jika ASI telah diperas dan disimpan di botol. ASI seperti ini dibiarkan dalam suhu ruang lebih dari delapan jam, maka seorang ibu sebaiknya tidak memberikannya kepada bayi.

Ada juga cerita yang menyatakan bahwa ASI berlimpah hanya didapatkan dari payudara berukuran besar. Demikian juga sebaliknya.

Namun menurut riset, ukuran payudara tidak berhubungan dengan volume persediaan ASI. Payudara besar menandakan banyaknya lemak yang menunjang.

Sementara banyak sedikitnya ASI bergantung pada kalenjer-kalenjer susu sebagai gudang ASI. Sementara hampir setiap ibu mempunyai kalenjer yang sama.

Contoh mitos ketiga; seorang ibu menyusui dilarang mengkonsumsi makanan pedas atau santan. Larangan ini karena makanan tersebut dapat menyebabkan bayi diare. Selain itu, seorang ibu menyusui tidak boleh minum es supaya bayi tidak mengalami pilek.

Pada kenyataanya, diare yang dialami bayi tidak berhubungan dengan pedas atau tidaknya makanan ibu. ASI memang berasal dari sari-sari makanan yang dimakan ibu. Hanya saja sari-sari makanan itu telah dicerna sedemikian rupa sehinggga bayi tidak merasakan jenis makanan yang dikonsumsi ibu. Meski demikian, jika ibu terlalu banyak makan makanan tertentu, hal ini dapat membuat bayi tidak menikmati beragam zat gizi.

Lalu bagaimana dengan minum es, apakah dapat menyebabkan si bayi pilek? Seperti mitos sebelumnya, tiada hubungannya antara jenis minuman ibu dan ASI. Apalagi suhu ASI dalam payudara hangat itu berkisar 37 derajat celsius.

Masih hubungan antara ibu dan air susunya. Apakah benar jika ibu sakit, bayinya ikut tertular melalui ASI? Jawabannya, tidak sepenuhnya benar. Ini hanya terjadi, misalnya, apabila sang ibu mengidap penyakit berat seperti HIV atau hepatitis.

Adapun penyakit seperti flu, sakit perut, demam, maka tidak akan menular ke bayi. Hal ini lantaran ASI mengandung antibodi yang merupakan inhibator untuk virus dan bakteri.

Masih banyak lagi mitos yang sebenarnya telah digugurkan oleh ilmu pengetahuan. Para ibu hanya perlu berhati-hati dalam menerima informasi atau cerita yang belum jelas sumbernya. Masalah ini juga mengingatkan agar para ibu – meski sibuk menyusui-, menyempatkan diri mengakses literasi ASI.

Konten Terkait