Perusahaan dan Dukungan pada Ibu Menyusui

  • 22 Agustus 2019
  • 84 views
Perusahaan dan Dukungan pada Ibu Menyusui Dukugan Perusahaan Terhadap menyusui

Perusahaan memainkan peran penting dalam mendukung upaya pemberian air susu ibu (ASI) eksklusif selama enam bulan. Hal ini lantaran sebagian besar waktu pekerja perempuan yang menyusui dihabiskan di tempat kerjanya.

Oleh sebab itu, pemerintah telah mengeluarkan aturan agar peran perusahaan dapat optimal. Salah satunya seperti Peraturan Pemerintah Nomor 33 Tahun 2012 Pasal 30 dan 34 tentang perusahaan yang harus memberikan kesempatan kepada ibu menyusui untuk melakukannya dengan benar.

Ketika para ibu ingin memberikan ASI secara benar, tentu mereka memerlukan fasilitas khusus di tempat kerja. Perusahaan, misalnya, memberikan ruang menyusui atau ruang memerah ASI.

Ruang menyusui diadakan bukan hanya dalam rangka memfasilitasi ibu pekerja untuk tetap dapat menyediakan ASI bagi anaknya, tetapi jika dilihat dalam konteks pelayanan publik.

Ruang menyusui  termasuk sarana khusus bagi pengguna layanan berkebutuhan khusus pengakses layanan yang wajib diwujudkan oleh instansi penyelenggara pelayanan publik.

Sebagian perusahaan juga mendukung lewat pemberian cuti melahirkan hingga empat bulan dengan tetap menyerahkan gaji penuh.

Setelah masa cuti, perusahaan tetap memberikan dukungan dengan memberikan kesempatan kepada mereka menyusui si kecil di tempat gawai.

Dukungan selesapas cuti tetap diperlukan mengingat riset Kesehatan Dasar 2013 yang menyatakan baru 38 persen ibu memberikan ASI eksklusif pada bayinya. Salah satu kendala terbesar yang mereka hadapi adalah harus kembali bekerja.

Tidak hanya kesempatan, waktu untuk memerah ASI di kantor pun harus diperhatikan oleh perusahaan. Jangan sampai atasan atau rekan kerja menegur ibu yang menyusui hanya karena dianggap menghabiskan banyak waktu kerja untuk menyusui.

Oleh sebab itu, perusahaan perlu mensosialisasikan dukungan kepada ibu menyusui kepada semua pekerja.

Hal ini untuk membentuk lingkungan kerja yang ramah terhadap pekerja yang menyusui. Dengan lingkungan seperti ini, para pekerja yang menyusui pun tidak merasa risi atau bahkan takut untuk memberikan ASI.

Perusahaan juga tak perlu merasa takut dengan memberikan kesempatan kepada pekerjanya memberikan ASI. Penelitian tahun 2002 yang dilakukan US Breastfeeding Commitee, contohnya, menyimpulkan bahwa tempat kerja sayang ibu dapat mengurangi turn over dan kehilangan tenaga terampil.

Turn over akan berdampak pada pengurangan tenaga kerja terampil dan menambah pengeluaran perusahaan untuk rekruitmen dan melatih karyawan baru.

Riset lain menemukan bahwa ibu yang sering memberikan bayinya susu formula ternyata tiga kali lebih sering tidak masuk kerja karena anaknya sering sakit.

Ibu bekerja yang memberikan ASI eksklusif justru menunjukkan peningkatan produktivitas, kepuasan kerja dan loyalitas tinggi.

Catatan di atas hanyalah contoh-contoh bagaimana perusahaan seharusnya mendukung ibu menyusui. Namun jika disimpulkan, perusahaan pada prinsipnya harus memiliki kebijakan khusus yang mendukung pemberian ASI eksklusif.

Kebijakan ini tentu tidak hanya berdampak positif bagi perusahaan setempat tapi juga berkontribusi bagi persiapan generasi penerus bangsa.

Konten Terkait